
Keberhasilan budi daya udang vaname ditentukan dari kesehatan udang itu sendiri, dari sejak benur hingga panen. Namun, serangan penyakit udang sering kali tidak bisa dihindari dan menjadi tantangan terbesar petambak saat ini. Memahami gejala penyakit udang sejak awal sangat penting agar tindakan penanganan dapat dilakukan secara cepat sebelum infeksi menyebar luas. Selain itu, langkah pencegahan penyakit udang vaname secara konsisten merupakan strategi terbaik untuk menjaga keberlanjutan bisnis tambak Anda.
Berikut contoh penyakit udang yang biasanya disebabkan oleh virus maupun bakteri.
Jenis Penyakit Udang Vaname yang Disebabkan oleh Virus
1. Infectious Hypodermal and Hematopoietic Necrosis Virus (IHHNV)
IHHNV merupakan penyakit yang menyebabkan perubahan warna pada udang menjadi putih mengilap, terutama di bagian sendi perut (abdomen). Gejala lain yang sering terlihat adalah warna tubuh yang berubah menjadi kebiruan serta pertumbuhan rostrum (ekor) yang cacat atau bengkok pada salah satu sisi. Penyakit ini umumnya menyebar antarudang melalui perilaku kanibalisme.
2. Taura Syndrome Virus (TSV) atau Sindrom Taura
Penyakit TSV ini pernah merebak luas dan masih berpotensi mengancam hingga saat ini. Infeksi TSV biasanya menyerang pada DoC 14 hingga 40 hari pasca-penebaran, terutama saat fase akhir siklus molting. Udang yang terinfeksi akan menunjukkan gejala berupa tubuh memucat, munculnya bercak hitam, kaki renang (pleopod) berwarna lebih merah, cangkang lunak, serta saluran pencernaan yang kosong.
3. Covert Mortality Disease (CMD)
Disebabkan oleh Covert Mortality Nodavirus (CMNV), CMD memicu kematian udang di dasar kolam sehingga sulit disadari oleh petambak pada tahap awal. Penyakit ini ditandai dengan warna hepatopankreas yang memudar, saluran pencernaan kosong, cangkang melunak, pertumbuhan udang yang lambat, serta warna otot daging yang berubah menjadi keputihan di bagian perut.





