
Udang tetap kokoh menjadi primadona sektor perikanan Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), komoditas ini menyumbang kontribusi terbesar terhadap total ekspor perikanan dengan nilai mencapai USD 1,63 miliar per tahun. Mengingat porsinya yang sangat signifikan bagi devisa negara, pergeseran dinamika pada pasar udang global akan langsung memengaruhi perekonomian perikanan nasional secara keseluruhan.
Lalu, ke negara mana saja tujuan udang diekspor selama tahun 2026? Berikut ulasan pasar ekspor udang Indonesia.
Amerika Serikat: Pasar Utama yang Mengalami Tekanan
Amerika Serikat (AS) hingga saat ini masih menjadi pasar tujuan nomor satu yang menyerap mayoritas udang Indonesia. Sayangnya, sepanjang semester pertama tahun 2026, pasar utama ini mengalami tekanan komersial yang cukup signifikan. Pada bulan Mei 2026, Indonesia hanya mampu mengirimkan sebesar 8.178 ton udang ke AS, angka yang menunjukkan penurunan tajam hingga -44% secara YoY.
Jika ditotal sejak Januari-Mei 2026, akumulasi pengiriman ke AS berada di angka 46.660 ton, atau melemah -23% dibanding performa tahun lalu. Walaupun volumenya sedang menyusut akibat ketatnya kompetisi global, AS tetap menjadi tujuan utama yang menopang lebih dari separuh total distribusi ekspor udang nasional.
Jepang: Konsumen Setia yang Relatif Stabil
Di posisi kedua, Jepang membuktikan posisinya sebagai mitra strategis yang loyal bagi komoditas udang Indonesia, terutama untuk produk-produk olahan yang bernilai tambah. Berbeda dengan pasar AS yang merosot tajam, fluktuasi permintaan di Jepang terbilang jauh lebih aman dan landai.
Sepanjang bulan Mei 2026, Jepang mengimpor sebesar 2.692 ton udang dari Indonesia, yang berarti hanya mengalami penurunan tipis sebesar -4% secara tahunan. Sementara itu, untuk periode Januari-Mei 2026, total pengiriman udang Indonesia ke Jepang mengalami penurunan di angka 11.981 ton atau -10% dari tahun sebelumnya.
Uni Eropa: Pasar Premium dengan Standar Ketat
Sebaliknya, kawasan Uni Eropa masih menjadi destinasi ekspor yang sangat menantang dan menunjukkan performa yang semakin melemah sepanjang tahun 2026. Pada bulan Mei 2026, volume udang Indonesia yang terserap di pasar ini hanya sebesar 483 ton, anjlok hingga -46% jika dibandingkan dengan Mei tahun lalu.
Penurunan ini membuat nilai kumulatif selama lima bulan pertama tahun 2026 di angka 2.462 ton, atau merosot hingga -40%. Hambatan terbesar di pasar ini adalah ketatnya standarisasi keamanan pangan, Uni Eropa mewajibkan kepemilikan sertifikasi internasional yang rumit serta menerapkan uji ambang batas residu antibiotik yang sangat ketat bagi produk udang yang ingin masuk.
Cina: Potensi yang Terus Tumbuh
Di tengah kelesuan yang melanda pasar Barat, Cina menjadi salah satu pasar utama yang mencatat pertumbuhan luar biasa sekaligus penyelamat performa ekspor Indonesia tahun ini. Pada bulan Mei 2026, volume pasokan ke Cina meroket hingga +63% secara YoY dengan mencatatkan angka 2.633 ton, pencapaian yang hampir menyusul volume pasar Jepang.
Tren positif ini melengkapi kesuksesan kumulatif Januari-Mei 2026, di mana total udang Indonesia yang diekspor ke Cina melonjak hingga 6.826 ton atau tumbuh +53%. Daya tarik Cina semakin kuat karena pasar ini menawarkan fleksibilitas, mereka tidak menerapkan sertifikasi seketat Uni Eropa dan sangat terbuka menerima berbagai variasi ukuran udang (size 20-100), menjadikannya destinasi yang bisa diprioritaskan.
Baca juga: Sorot Daerah Produsen Udang Tertinggi: Nusa Tenggara Barat
Kesimpulan
Secara keseluruhan, meskipun udang tetap menjadi primadona ekspor perikanan Indonesia dengan nilai USD 1,63 miliar per tahun, performa ekspor sepanjang semester pertama tahun 2026 mengalami tantangan berat akibat penurunan volume di pasar utama seperti AS dan Uni Eropa, serta koreksi tipis di pasar Jepang. Namun, penurunan tersebut mampu diantisipasi oleh lonjakan ekspor ke Cina yang tumbuh hingga +53%.
Tren penurunan ekspor di beberapa negara sepanjang semester pertama tahun 2026 ini menjadi alarm penting bagi industri udang Indonesia. Fluktuasi ini mempertegas bahwa keberhasilan ekspor tidak hanya ditentukan oleh pasar internasional, melainkan dari kesiapan hulu atau tingkat budi daya domestik itu sendiri. Beberapa hambatan di level petambak yang harus segera diantisipasi antara lain penanganan wabah penyakit, jaminan ketersediaan benur berkualitas tinggi, efisiensi biaya produksi agar harga jual lebih kompetitif, serta manajemen tata kelola lingkungan budi daya yang berkelanjutan.
Untuk memahami lebih dalam bagaimana dinamika ekspor pasar global dan performa budi daya Indonesia, JALA telah mengupas lengkap dalam Laporan Shrimp Outlook 2026 yang bisa dibaca secara gratis.
Referensi:






