
Udang windu (Penaeus monodon) pernah menjadi komoditas unggulan tambak Indonesia sebelum popularitasnya tergeser oleh udang vaname (Litopenaeus vannamei). Udang windu dikenal dengan ukuran tubuh yang besar dan corak garis hitam putih yang menyerupai harimau, sering disebut tiger shrimp di pasar internasional. Udang windu juga memiliki banyak nama lokal di berbagai daerah, seperti udang pancet, bago, pedet, menjangan, pelaspelas, hingga baratan. Sebagai spesies yang berasal dari kawasan Indo-Pasifik, udang windu banyak ditemukan di perairan Asia Tenggara dan Australia.
Budi daya udang windu mulai berkembang pesat di Indonesia sejak tahun 1980. Produksinya terus meningkat hingga 1990-an dan sempat membawa Indonesia masuk dalam jajaran eksportir udang windu terbesar di dunia. Pada masa tersebut, udang windu menjadi komoditas andalan karena memiliki ukuran besar, harga jual tinggi, dan permintaan ekspor yang kuat, terutama dari pasar Jepang, Amerika Serikat, dan Eropa. Banyak tambak tradisional maupun semi-intensif di pesisir Indonesia bergantung pada komoditas ini.
Namun, tingginya produksi saat itu belum sepenuhnya didukung oleh manajemen budi daya dan biosekuriti yang baik. Kondisi ini kemudian menjadi salah satu faktor yang memicu penurunan produksi secara besar-besaran.
Penyebab Posisi Udang Windu Tergeser oleh Vaname
Wabah penyakit yang memicu penurunan produksi
Memasuki tahun 1994, budi daya udang windu menghadapi krisis akibat serangan penyakit White Spot Syndrome Virus (WSSV). Serangan penyakit juga diperparah oleh penurunan kualitas air, padat tebar yang tidak terkontrol, serta sistem budi daya yang belum menerapkan pengelolaan lingkungan secara optimal. Akibatnya banyak tambak mengalami gagal panen dan kematian massal.
Dampaknya sangat besar terhadap produktivitas tambak. Produksi udang windu di Indonesia dilaporkan turun hingga 82%, dari 13,37 ton per ha/tahun menjadi 2,67 ton per ha/tahun. Banyak petambak akhirnya menghentikan usaha budi dayanya karena tingginya risiko kerugian.




