Tips Budidaya

DO Meter Tambak Udang: Mengapa Oksigen Terlarut Sangat Penting untuk Budi Daya Udang?

Syauqy Nurul Aziz
Syauqy Nurul Aziz
2 September 2026
Bagikan artikel
Cover - DO Meter untuk Tambak Udang.webp

Dalam budi daya udang intensif, kualitas air merupakan salah satu faktor yang paling menentukan keberhasilan budi daya. Dari berbagai parameter kualitas air yang perlu dipantau, Dissolved Oxygen (DO) atau oksigen terlarut menjadi salah satu yang paling penting karena berhubungan langsung dengan kehidupan udang.

Pakan berkualitas, benur unggul, dan manajemen budi daya yang baik tidak akan memberikan hasil maksimal jika kadar oksigen di dalam air tidak mencukupi. Udang membutuhkan oksigen untuk bernapas, mencerna makanan, tumbuh, membentuk jaringan tubuh, hingga menjaga sistem kekebalan terhadap penyakit.

Sayangnya, oksigen di dalam air jumlahnya jauh lebih sedikit dibandingkan di udara. Di atmosfer, kandungan oksigen mencapai sekitar 21%, sedangkan di dalam air hanya sebagian kecil yang dapat larut. Selain jumlahnya terbatas, oksigen juga terus digunakan oleh udang, plankton, bakteri, dan mikroorganisme lain yang hidup di dalam tambak. Akibatnya, kadar DO tidak pernah benar-benar stabil. Nilainya akan terus berubah sepanjang hari mengikuti suatu pola yang dikenal sebagai diel cycle atau siklus oksigen harian.

Bagi petambak, memahami siklus ini bukan hanya sekadar pengetahuan teknis. Pemahaman ini dapat menjadi pembeda antara panen yang sukses dengan kerugian akibat pertumbuhan lambat, FCR yang memburuk, hingga kematian massal. Terutama pada waktu menjelang subuh, ketika kadar oksigen mencapai titik terendah dalam satu hari.

Daftar Isi
Artikel Terkait

Memahami Siklus Oksigen Harian di Tambak

Setiap hari, tambak mengalami siklus alami naik turunnya kadar oksigen. Perubahan ini dipengaruhi oleh keseimbangan antara proses yang menghasilkan oksigen dan proses yang menghabiskan oksigen. Secara sederhana, terdapat dua fase utama yang perlu dipahami oleh setiap petambak.

Siang hari: Tambak menghasilkan oksigen

Pada siang hari, sinar matahari memungkinkan fitoplankton melakukan fotosintesis. Dalam proses ini, plankton memanfaatkan cahaya matahari untuk menghasilkan oksigen yang dilepaskan ke dalam air.

Karena produksi oksigen berlangsung cukup besar, kadar DO biasanya meningkat secara bertahap sejak pagi hingga sore hari. Bahkan pada tambak dengan populasi plankton yang tinggi, kadar oksigen dapat melebihi kondisi jenuh (supersaturation). Inilah alasan mengapa hasil pengukuran DO pada siang hari sering terlihat sangat tinggi.

Namun, kondisi tersebut sering kali memberikan rasa aman yang semu. Kadar DO yang tinggi pada siang hari belum tentu menjamin kondisi tambak tetap aman pada malam hari.

Malam hari: Oksigen terus berkurang

Ketika matahari mulai terbenam, proses fotosintesis berhenti. Tidak ada lagi sumber utama yang menghasilkan oksigen.

Sebaliknya, seluruh organisme di dalam tambak tetap melakukan respirasi atau proses bernapas. Udang tetap membutuhkan oksigen. Plankton juga tetap menggunakan oksigen. Bakteri yang menguraikan sisa pakan dan kotoran di dasar tambak juga mengonsumsi oksigen dalam jumlah yang besar. Dengan kata lain, sepanjang malam oksigen hanya digunakan, tetapi tidak diproduksi.

Akibatnya, kadar DO akan terus menurun sedikit demi sedikit hingga mencapai titik terendah tepat sebelum matahari terbit. Itulah mengapa waktu antara pukul 03.00 hingga 06.00 pagi sering menjadi periode paling kritis dalam budidaya udang. Semakin tinggi kepadatan tebar, semakin banyak pakan yang diberikan, dan semakin tinggi populasi plankton, maka semakin besar pula penurunan DO yang terjadi pada malam hari.

Mengapa DO Rendah Sangat Berbahaya?

Login untuk Baca Artikel Selengkapnya
Gunakan akun Jala Anda untuk membaca artikel ini. Jika Anda belum memiliki akun, silakan daftar di Jala App.
Ikuti Berita Terbaru JALA

Dapatkan pemberitahuan tips budidaya, update fitur dan layanan, serta aktivitas terkini JALA.