
Dalam budi daya udang, pemilihan benur merupakan langkah awal yang menjadi penentu keberhasilan siklus. Kualitas benur sangat menentukan keberhasilan performa budi daya hingga masa panen. Di industri akuakultur modern, Anda pasti sering mendengar istilah Specific Pathogen Free (SPF) dan Specific Pathogen Resistant (SPR). Meskipun terdengar mirip, keduanya memiliki karakteristik genetik dan fungsi yang sangat berbeda. Mari kita bedah perbedaannya agar tidak salah memahami.
Mengenal Benur Specific Pathogen Free (SPF)
Teknologi benur SPF pertama kali dikembangkan di Amerika Serikat pada awal tahun 1990 yang mengadaptasi kesuksesan industri peternakan, seperti ayam. Pada tahun 1998, benur SPF mulai masuk ke Asia dan langsung merevolusi industri udang secara masif. Benur SPF ini dapat menunjukkan status kesehatan udang yang dijamin bebas dari patogen, terutama virus tertentu pada saat udang tersebut diproduksi di hatchery.
Walaupun benur SPF menawarkan jaminan kesehatan yang tinggi, ada beberapa hal penting yang perlu dipahami agar tidak salah ekspektasi dalam penerapannya di tambak:
- Bebas penyakit, bukan kebal penyakit: Label SPF bukan jaminan bahwa udang memiliki kekebalan tertentu. Status ini hanya memastikan benur yang ditebar dan tumbuh dalam kondisi bersih, serta bebas dari bawaan penyakit sejak dari hatchery.
- Kerentanan terhadap lingkungan baru: Begitu benur SPF masuk ke tambak, status bebas patogen sepenuhnya bergantung pada lingkungan baru. Jika biosekuriti tambak tidak diterapkan, udang SPF tetap dapat terinfeksi patogen yang terbawa oleh air, tanah, atau penyakit di sekitar tambak.
- Fokus pada target patogen tertentu: Udang SPF umumnya dinyatakan bebas dari virus-virus utama seperti WSSV, TSV, IHHNV, IMNV, dan AHPND.






