Tips Budidaya

Mengenal Parameter Total Bahan Organik (TOM)

Wildan Gayuh Zulfikar
Wildan Gayuh Zulfikar
26 Oktober 2023
get-to-know-the-total-organic-matter-tom-parameter.jpg

Total bahan organik adalah parameter kualitas air di tambak udang yang berkaitan dengan jumlah bahan organik yang berasal dari pakan yang tidak termakan, feses, dan hasil metabolisme. Parameter ini biasanya digambarkan dengan limbah di dasar kolam maupun suspensi air. Standar kualitas air budidaya untuk parameter total bahan bahan organik (TOM) adalah < 55 ppm, sedangkan untuk kualitas air baku sesudah perlakuan di tandon direkomendasikan < 20 ppm.

Tingginya konsentrasi TOM terjadi akibat kematian plankton dan pemberian pakan berlebih. Peningkatan sisa pakan terlihat dari peningkatan total bahan organik baik yang tersuspensi di air maupun yang mengendap di dasar kolam. Busa kotoran di air tambak juga dapat menandakan bahan organik tinggi. Tingginya bahan organik dengan berbagai konsekuensinya terhadap parameter kualitas air yang lain juga dapat berantai menyebabkan pengaruh pada tingkat konsumsi pakan oleh udang.

Tingginya bahan organik menyebabkan rendahnya DO. Oksigen terlarut atau dissolved oxygen (DO) yang rendah (< 4 mg/l) dalam air menyebabkan gangguan pada udang, mulai dari penurunan nafsu makan, timbulnya penyakit sampai terjadi kematian. Banyaknya materi organik sebagai bahan bagi mikroorganisme di dasar akan meningkatkan biological oxygen demand (BOD) sehingga DO juga akan turun. BOD merupakan total oksigen yang digunakan oleh mikroorganisme untuk menguraikan bahan organik. 

Rendahnya DO berasal dari proses dekomposisi bahan organik oleh bakteri yang membutuhkan DO sehingga dasar kolam berada dalam kondisi anaerob. Tingginya nilai BOD mengindikasikan banyaknya limbah organik di kolam. Akumulasi limbah yang berlebihan dapat mengakibatkan turunnya DO secara drastis yang biasanya terjadi pada malam atau pagi hari.

Banyaknya bahan organik di dasar ditambah kurangnya oksigen dapat menyebabkan timbulnya hidrogen sulfida (H2S). Hidrogen sulfida adalah hasil dari aktivitas bakteri pencerna sulfat dari materi organik di kondisi anaerob biasanya di dasar atau lumpur kolam. H2S dapat mencegah udang untuk mengambil oksigen.

Penanganan TOM yang terlalu tinggi

Jika TOM terlalu tinggi, langkah yang dilakukan di antaranya evaluasi jumlah pakan, buang plankton mati, peningkatan siphon, pemberian probiotik dan penggantian air. Lakukan beberapa langkah berikut untuk menjaga jumlah materi organik:

  1. Pemberian pakan pada udang dengan cara pemaketan sesuai dengan populasi dan potensi pertumbuhan akan meminimalkan akumulasi bahan organik di dalam tambak, sehingga pertumbuhan bakteri dapat ditekan. Perbaiki manajemen pakan untuk mencegah overfeeding yang berakibat pada tingginya limbah dan meningkatnya oxygen demand.
  2. Pemberian probiotik sebagai agen pengontrol. Aplikasi probiotik ini bertujuan untuk menyiapkan bakteri pengurai bahan-bahan organik sehingga ketika proses budidaya sudah tersedia bakteri yang mencukupi. Gunakan probiotik dengan komposisi jenis bakteri yang mampu mengolah materi organik seperti Bacillus spp. Probiotik memanipulasi populasi mikroorganisme di kolam untuk mineralisasi materi organik dan menghilangkan senyawa limbah yang berlebihan. Probiotik juga akan menekan pertumbuhan bakteri patogen dan meningkatkan pertumbuhan bakteri menguntungkan yang akhirnya memperbaiki kualitas air dan kesehatan udang.
  3. Mengendalikan keberadaan fitoplankton agar mencegah kematian massal sehingga deposit oksigen dapat dipertahankan. Kematian massal fitoplankton dapat dihindari dengan beberapa tindakan, antara lain mengganti air secara rutin dan meningkatkan alkalinitas dengan aplikasi kapur terutama dolomit secara rutin. 
  4. Arus air dalam tambak perlu dipertahankan agar material organik tetap berada dalam kondisi tersuspensi dan terkumpul di titik pengendapan yang seharusnya, sehingga menentukan jumlah dan penempatan kincir yang tepat juga penting untuk menjaga konsentrasi bahan organik.
  5. Lakukan pergantian air dan penyiponan dasar kolam. Pada budidaya sistem tertutup, pergantian air hanya mengganti air yang hilang karena penguapan dan bocoran (penambahan air), namun ada juga tambak yang melakukan pergantian air sekitar 10&ndash;20 % untuk mengontrol jumlah bahan organik, pengenceran kelimpahan plankton yang berlebihan (terlalu pekat), kelimpahan populasi bakteri yang merugikan, dan memperbaiki kondisi parameter khususnya bahan organik yang terlalu pekat dan memperkecil gas&ndash;gas beracun.
Bagikan artikel ini
Ikuti Berita Terbaru JALA

Dapatkan pemberitahuan tips budidaya, update fitur dan layanan, serta aktivitas terkini JALA.