
White Muscle Syndrome (WMS) merupakan salah satu gangguan kesehatan pada udang yang ditandai dengan perubahan warna otot menjadi putih dan tekstur tubuh yang kaku. Dalam beberapa tahun terakhir, kasus WMS mulai banyak dilaporkan oleh petambak di berbagai daerah Indonesia, terutama pada fase pertumbuhan menengah hingga akhir.
Artikel ini merangkum temuan lapangan dari hasil wawancara petambak dan pakar, serta diperkuat dengan referensi ilmiah terkait kemungkinan penyebab dan mekanisme penyakit.
Mengenal Penyakit WMS
WMS adalah kondisi patologis pada udang yang ditandai dengan:
- Otot berwarna putih susu (terutama pada bagian abdomen).
- Otot tampak keropos atau menyerupai softshell.
- Udang menjadi kaku dan sulit bergerak.
- Penurunan kualitas panen dan harga jual.
Pada kondisi lanjut, jaringan otot mengalami nekrosis (kematian sel), sehingga fungsi kontraksi dan relaksasi otot terganggu. Jika tidak terkontrol, kasus dapat berkembang menjadi kematian massal. Secara historis, gejala WMS sering dikaitkan dengan Infectious Myonecrosis Virus (IMNV). Namun, dalam beberapa kasus, gejala WMS ditemukan tanpa konfirmasi IMNV, sehingga memunculkan dugaan faktor penyebab lain.
Berdasarkan hasil wawancara dengan petambak, gejala WMS umumnya muncul pada DoC 30-50, dengan fase krisis sering terjadi pada DoC 50-70. Beberapa siklus budi daya terpaksa dihentikan sebelum panen, bahkan ada tambak yang hanya berakhir di DoC 58 dan tidak dapat dipanen. Pada kasus lain, terdapat tambak yang tetap mempertahankan hingga panen meskipun terindikasi WMS, terutama ketika mortalitas masih dapat dikendalikan. Karakteristik kematian WMS cenderung meningkat secara drastis pada fase lanjut yang berdampak pada nilai Survival Rate (SR) akhir yang turun drastis.
Dugaan Penyebab Penyakit WMS
1. Dugaan infeksi bakteri PDD
Dalam beberapa investigasi lapangan, WMS tidak selalu terkonfirmasi sebagai IMNV. Dugaan terbaru mengarah pada infeksi bakteri Photobacterium damselae subsp. damselae (PDD). PDD dikenal sebagai bakteri patogen laut yang dapat menyebabkan nekrosis jaringan pada berbagai organisme akuatik. Infeksi PDD umumnya bersifat sekunder, artinya memerlukan faktor pemicu sebelumnya seperti stres lingkungan atau gangguan fisiologis. Secara ilmiah, PDD menghasilkan toksin seperti damselysin yang bersifat sitotoksik dan mampu merusak jaringan.





