Tips Budidaya

Bersama Mempelajari Manajemen Benur dan Penerapan IPAL di SHRIMPS TALK #7

Vanessa
Vanessa
17 Mei 2023
Cover - ST #7 id.png

Benur dan pengelolaan limbah adalah dua faktor yang tidak boleh dilewatkan dalam budidaya udang, karena keduanya mempengaruhi keberhasilan budidaya. Untuk membantu petambak lebih memahami kedua aspek tersebut, pada 13 Mei 2023 lalu, JALA dan Forum Informasi Budidaya mengadakan webinar online SHRIMPS TALK.

SHRIMPS TALK kali ini membahas 2 topik menarik: Manajemen Benur - Kunci Sukses Budidaya Udang oleh Edi Sofyan, A.Pi, selaku praktisi benur, dan Solusi Praktis Penerapan IPAL untuk Budidaya Udang Berkelanjutan oleh Dany Yukasano, National Technical Manager dari Grobest. Sebanyak 135 audiens mengikuti webinar ini.

Manajemen Benur: Kunci Sukses Budidaya Udang

Pada materi pertama, Bapak Edi Sofyan menjelaskan bahwa salah satu arti sukses dalam budidaya udang adalah berhasil membuat benur berkualitas baik yang memberikan nilai positif terhadap pembesaran udang di tambak. Untuk memproduksi benur dengan sukses, dibutuhkan fasilitas pemeliharaan serta fasilitas operasional produksi seperti laboratorium untuk memantau kesehatan benur dan laboratorium untuk pengecekan kualitas air.

shrimp71.png Untuk memproduksi benur berkualitas, dibutuhkan proses pengolahan air laut yang baik, meliputi penyaringan dan desinfeksi untuk menghilangkan kotoran dan patogen. Kemudian, dilakukan pemilihan induk agar benur yang dihasilkan terstandarisasi. Setelah melakukan prediksi jumlah benur yang ingin diproduksi dan perhitungan jumlah induk, maka dilanjutkan dengan proses karantina induk, ablasi, dan maturasi. Semua tahapan ini dilakukan secara terkontrol di hatchery.

Setelah induk menghasilkan naupli, yaitu stadia pertama larva udang setelah telur menetas, maka penebaran benih dilakukan sesuai dengan kesepakatan kepadatan per liter yang dibudidayakan. Umumnya, setelah penebaran dilakukan 17 hari pemeliharaan. Kemudian dilakukan monitoring kesehatan dan kualitas benur baik melalui uji laboratorium maupun visual. Benur yang berkualitas bersifat responsif terhadap cahaya. Setelah benur dipastikan kualitasnya, maka benur melalui aklimatisasi agar dapat beradaptasi pada kondisi lingkungan di tambak.

Benur yang sudah lolos uji kualitas siap dikirim ke petambak dengan memastikan parameter seperti panjang (minimal panjang 7.4 mm) dan variasi ukuran, serta bebas parasit, formalin, dan virus. Dengan benur yang berkualitas, maka petambak dapat lebih yakin untuk mencapai target produksi yang diharapkan.

Solusi Praktis Penerapan IPAL untuk Budidaya Udang Berkelanjutan

Setiap petambak tentu mengharapkan agar tambaknya menghasilkan produktivitas dan keuntungan yang besar. Namun, Bapak Dany mengingatkan bahwa yang tidak boleh diabaikan petambak untuk mencapai hal tersebut adalah penerapan sustainability atau keberlanjutan dalam berbudidaya. Budidaya yang sustainable harus memanfaatkan dan melestarikan sumber daya yang ada sambil melindungi lingkungan.

shrimp72.png Salah satu faktor yang membuat sustainability sulit dicapai dalam budidaya udang adalah limbah yang dihasilkan. Limbah budidaya udang memiliki Biological Oxygen Demand (BOD), Total Suspended Solid (TSS), serta kandungan bahan organik yang tinggi. Jika tidak ditangani dengan baik, pembuangan limbah dapat menyebabkan pendangkalan wilayah pesisir, peningkatan penyakit udang, dan berbagai masalah lingkungan lainnya.

Karena itu, dibutuhkan Instalasi Pengolah Air Limbah (IPAL), yaitu bangun air untuk mengolah air buangan yang berasal dari limbah pembesaran udang. Minimal ratio IPAL terhadap kolam budidaya adalah 20%, terdiri dari:

  • Kolam sedimentasi: memisahkan air limbah dengan padatan larutan total (TSS)
  • Kolam aerasi: membantu melarutkan oksigen ke dalam air untuk meningkatkan kadar oksigen terlarut dalam air
  • Kolam ikan atau makro algae: berfungsi sebagai biofilter dan bioindikator, mengurangi TSS, nitrit, nitrat, dan fosfat

Ada beberapa tips yang perlu diingat petambak dalam membuat IPAL. Pertama, kolam sedimentasi perlu dibuat berkelok-kelok, dapat dipasang filter atau saringan, dan arusnya kurang dari 20 meter/detik. Selain itu, endapannya juga harus rutin dikeluarkan, minimal sebelum ketebalannya mencapai 50% dari kedalaman air.

Berikutnya, untuk kolam aerasi, diperlukan kincir/root blower yang dapat mengaerasi hingga ke dasar kolam. Untuk kolam ikan atau makro algae, petambak dapat mengisinya dengan ikan nila/bandeng atau tanaman air. Air sebaiknya tertahan di kolam ikan selama minimal 6 jam. Bahan kimia juga tidak disarankan untuk digunakan dalam IPAL untuk mengurangi dampak negatif pada lingkungan. Kualitas air IPAL juga harus rutin dievaluasi, jika belum memenuhi syarat maka harus diolah kembali dari tahap awal.

Kedua materi disambut antusias oleh para petambak. Mereka mengungkapkan berbagai pertanyaan terkait tips budidaya, pengelolaan benur dan limbah. JALA berharap materi yang dibagikan bermanfaat bagi petambak untuk berbudidaya dengan semakin produktif dan berkelanjutan.

Jika Anda terlibat dalam industri budidaya udang dan ingin meningkatkan produktivitas tambak dengan informasi dan wawasan terkini, ikuti Instagram JALA di @jalaindonesia agar tidak ketinggalan jadwal SHRIMPS TALK dan acara lainnya dari JALA. Sampai jumpa di SHRIMPS TALK berikutnya!

Bagikan artikel ini
Ikuti Berita Terbaru JALA

Dapatkan pemberitahuan tips budidaya, update fitur dan layanan, serta aktivitas terkini JALA.