Tips Budidaya

SHRIMPS TALK #5 Membahas Pentingnya Keberlanjutan dan Biosekuriti dalam Budidaya Udang

Vanessa
Vanessa
3 Maret 2023
Cover Artikel Shrimps Talk IND-01-01.png

JALA kembali mengadakan webinar online SHRIMPS TALK bersama dengan Forum Informasi Budidaya. Kali ini, SHRIMPS TALK mengangkat 2 topik menarik, yaitu Manajemen Lingkungan Tambak Udang Berkelanjutan yang dibawakan oleh Prof. Dr. Sinung Rahardjo, A.Pi., M.Si, dan Penerapan Biosecurity dalam Tambak Udang, yang dibawakan oleh Dr. Ade Sunaryo, S.ST., M.Sc. Sebanyak 313 audiens mengikuti webinar ini.

Pada sesi pertama, Prof. Dr. Sinung membahas tentang pendekatan eco-shrimp untuk manajemen lingkungan budidaya udang. Beliau menjelaskan bahwa penyakit masih menjadi penyebab terbesar kegagalan utama udang. Munculnya penyakit pun tak lepas dari adanya faktor stres pada udang karena lingkungan sekitarnya. Karena itu, budidaya udang dengan pendekatan ekosistem, atau eco-shrimp sangat penting untuk mewujudkan budidaya yang lebih berkelanjutan sekaligus bebas penyakit.

STfeb1.png Selanjutnya, Prof. Dr. Sinung membahas pentingnya menerapkan model baru dalam IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah). Dalam model ini, nutrient trap digunakan untuk mengalirkan limbah budidaya ke kawasan mangrove sebagai pupuk (nutrient). Namun, jika kawasan tambak tidak dikelilingi mangrove, alternatifnya adalah menggunakan rumput laut untuk proses biofiltrasi.

Prof. Dr. Sinung juga menjelaskan bahwa penyakit dapat diminimalisir dengan pemanfaatan fitofarmaka atau tanaman obat. Misalnya, terdapat riset bahwa penggunaan terong asam dan lempuyang dapat meningkatkan survival rate (SR) pada budidaya udang. Namun, yang terpenting adalah menerapkan aspek biosekuriti dalam berbudidaya.

Sesi kedua dilanjutkan oleh Dr. Ade yang membahas lebih lanjut mengenai penerapan biosekuriti dalam tambak udang. Biosekuriti sendiri merupakan segala tindakan, prosedur dan kebijakan yang digunakan untuk mencegah penyebaran penyakit dalam budidaya udang. Beberapa cara menerapkan biosekuriti, di antaranya penggunaan benur SPF (Specific Pathogen Free), yaitu benur bebas patogen yang saat ini mudah ditemui.

STfeb2.png Selain itu, biosekuriti juga termasuk mengelola air dengan menyediakan tandon untuk dilakukan pengendapan pada air sebelum dimasukkan ke dalam media budidaya. Selama budidaya pun, alat sanitasi tangan dan kaki harus tersedia. Peralatan tambak perlu disterilisasi agar bebas patogen.

Bagaimana jika tambak udang terlanjur terinfeksi penyakit? Jika petambak memilih untuk panen darurat, lakukan dosing dengan KMNO4 dengan cara menggantungkannya pada pipa flushing dengan dosis 10 ppm, lalu ± 5 ppm pada daerah sekitar sub road. Setelah proses panen selesai, desinfeksi harus dilakukan, beserta pembakaran dan penguburan bangkai udang.

Kedua materi pada SHRIMPS TALK kali ini disambut baik oleh para audiens, yang mengajukan berbagai pertanyaan seputar tips pengelolaan lingkungan tambak dan pembuangan limbah. JALA berharap materi yang dibagikan dapat bermanfaat untuk menjalankan budidaya dengan lebih melestarikan lingkungan sambil menerapkan biosekuriti.

Apa Anda terlibat dalam industri budidaya udang dan ingin meningkatkan produktivitas tambak dengan informasi dan wawasan terkini? Follow Instagram JALA di @jalaindonesia agar tidak ketinggalan jadwal SHRIMPS TALK dan acara lainnya dari JALA. Sampai jumpa di SHRIMPS TALK berikutnya!

Bagikan artikel ini
Ikuti Berita Terbaru JALA

Dapatkan pemberitahuan tips budidaya, update fitur dan layanan, serta aktivitas terkini JALA.