Industri Udang

Tantangan Ekspor Udang Indonesia

Rizka Sholeha
Rizka Sholeha
6 Maret 2026
Bagikan artikel
Cover - Udang Indonesia.webp

Indonesia merupakan negara keempat pengekspor udang terbesar di dunia, komoditas udang memberikan kontribusi signifikan terhadap devisa, terutama melalui pasar internasional seperti Amerika Serikat (AS), Jepang, Cina, dan Uni Eropa. Namun, di tengah potensi besar tersebut, sektor ekspor udang menghadapi berbagai tantangan serius sejak tahun 2025, dari kebijakan tarif hingga isu keamanan pangan yang memengaruhi daya saing dan kepercayaan pasar global.

Apa saja tantangan terbesar yang dihadapi ekspor udang Indonesia? JALA telah merangkum pada artikel berikut!

Daftar Isi
Artikel Terkait

Tantangan Kebijakan Tarif Resiprokal dengan AS

Salah satu tantangan utama bagi ekspor udang Indonesia adalah kebijakan tarif resiprokal yang dikenakan oleh pemerintah AS terhadap barang-barang impor, termasuk produk udang. Kebijakan ini merupakan bagian dari perjanjian dagang bilateral yang disepakati antara Indonesia dan AS untuk merespon defisit perdagangan AS dengan sejumlah mitra dagang.

Skema tarif resiprokal antara Indonesia dengan AS:

  • AS sebelumnya memberlakukan tarif tinggi hingga 32% terhadap produk Indonesia.
  • Melalui negosiasi panjang kedua negara, tarif tersebut telah disepakati turun sekitar 19% untuk sebagian besar produk, termasuk beberapa komoditas unggulan Indonesia.
  • Dalam perundingan lanjutan, tarif resiprokal ini bahkan turun mencapai 15%.

Untuk industri udang Indonesia yang masih bergantung pada pasar AS mengakibatkan tarif yang relatif tinggi ini tetap menjadi beban kompetitif, terutama menghadapi negara pesaing seperti Ekuador yang memiliki tarif lebih rendah di pasar AS sebesar 10%.

Isu Keamanan Pangan

Selain hambatan tarif, isu keamanan pangan juga menjadi sorotan penting dalam ekspor udang Indonesia. Pada tahun 2025, beberapa kontainer udang Indonesia dilaporkan terdeteksi mengandung Cs-137, sebuah isotop radioaktif dalam pengirimannya ke AS. Temuan ini memicu perhatian otoritas keamanan pangan internasional, termasuk US Food and Drug Administration (FDA). Pemerintah Indonesia merespon dengan memperkuat sistem inspeksi dan sertifikasi kualitas, termasuk menambah kewajiban sertifikat bebas dari Cs-137 bagi produk udang yang diekspor ke AS. Sertifikasi tersebut nantinya diterbitkan oleh otoritas yang diakui, seperti KKP bersama laboratorium terkait.

Selain Cs-137, tantangan lain yang juga kerap disebut adalah penyalahgunaan antibiotik dalam budi daya udang karena dapat meninggalkan residu pada produk akhir. Penggunaan antibiotik merupakan kekhawatiran berkelanjutan di dunia pangan karena dapat memengaruhi sertifikasi keamanan dan standar sanitasi internasional. Sistem kontrol mutu yang lebih ketat terus didorong pemerintah dan pelaku industri untuk mengatasi tantangan ini agar produk udang Indonesia diterima di pasar global.

Upaya yang telah dilakukan tersebut cukup berpengaruh pada kembalinya dibuka ekspor udang Indonesia ke AS yang sebelumnya sempat terhenti. Walaupun demikian, konsistensi dalam menjaga keamanan mutu tetap harus dipertahankan agar penyerapan ekspor udang semakin maksimal.

Banner SO26 Report_Web App 1250x672_Variasi 3_ID.png

Dampak pada Posisi Indonesia di Pasar Global

Tantangan-tantangan di atas bukan sekadar hambatan jangka pendek, tapi dapat berdampak pada posisi Indonesia dalam perdagangan global, terutama:

  • Daya saing ekspor: Tarif yang lebih tinggi dapat mengurangi margin keuntungan eksportir dan mendorong pembeli beralih ke negara lain.
  • Kepercayaan pasar: Isu keamanan pangan seperti kontaminasi atau residu antibiotik berpotensi menurunkan kepercayaan pasar internasional jika tidak dikelola dengan baik.
  • Diversifikasi pasar: Ketidakpastian di pasar AS mendorong Indonesia untuk mengeksplorasi pasar alternatif seperti Jepang, Cina, Uni Eropa sebagai strategi mitigasi risiko.

Kesimpulan

Sebagai salah satu eksportir udang terbesar dunia dengan pasar utama di AS, Indonesia menghadapi tantangan nyata sejak 2025, mulai dari kebijakan tarif resiprokal yang masih menekan daya saing hingga isu keamanan pangan seperti temuan Cs-137 dan residu antibiotik yang memengaruhi kepercayaan pasar global. Untuk memahami kondisi ini secara lebih komprehensif dan menyiapkan strategi yang tepat, unduh Laporan Shrimp Outlook 2026. Menyajikan analisis berbasis data mengenai pasar global, performa dan perilaku budi daya di Indonesia, tantangan industri, serta proyeksi sebagai acuan strategi budi daya 2026.

Ikuti Berita Terbaru JALA

Dapatkan pemberitahuan tips budidaya, update fitur dan layanan, serta aktivitas terkini JALA.