Industri Udang

Sorot Daerah Produsen Udang Tertinggi: Nusa Tenggara Barat

Rizka Sholeha
Rizka Sholeha
15 Mei 2026
Bagikan artikel
Cover - Indonesian Shrimp Industry Performance.webp

Nusa Tenggara Barat (NTB) masih memperkuat posisinya sebagai salah satu pusat industri udang nasional. Dalam beberapa tahun terakhir, NTB tidak hanya unggul dari sisi produksi, tetapi mulai menunjukkan peran penting dalam ekspor dan arah pengembangan industri berbasis nilai tambah. Perkembangan ini menjadikan NTB sebagai wilayah strategis dalam peta industri udang Indonesia yang terus berkembang.

Daftar Isi
Artikel Terkait

Catatan Produksi Udang NTB

Dominasi NTB sebagai produsen udang terbesar di Indonesia bukan fenomena sesaat. Dalam data terakhir tahun 2024 dari Portal Data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), NTB menjadi provinsi dengan produksi udang terbesar di Indonesia mencapai 196.398 ton, diikuti oleh Jawa Timur 110.666 ton, dan Jawa Barat 101.678 ton.

Tingginya produksi ini tidak terlepas dari berkembangnya sistem budi daya intensif hingga super intensif, terutama untuk udang vaname, yang didukung oleh kondisi geografis NTB yang relatif ideal. Kawasan pesisir di Lombok dan Sumbawa menjadi basis utama pengembangan tambak, dengan pertumbuhan yang cukup pesat dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini memperkuat posisi NTB sebagai tulang punggung produksi udang Indonesia.

Tantangan Pengelolaan Daerah Penghasil Udang

Produksi yang besar belum diimbangi dengan nilai tambah

Meskipun produksi udang di NTB tergolong sangat tinggi, sebagian besar hasil panen masih dijual dalam bentuk mentah. Kondisi ini menunjukkan bahwa rantai nilai industri belum sepenuhnya berkembang di dalam daerah. Sebagian besar udang dari NTB, baik dari Lombok maupun Sumbawa, masih dikirim ke luar daerah seperti Surabaya dan Banyuwangi untuk diproses lebih lanjut sebelum diekspor.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan NTB, H. Muslim, melalui Ekbis NTB menjelaskan selama ini udang dari NTB banyak dibeli oleh pelaku usaha luar daerah dan diproses di sana. Situasi tersebut membuat nilai tambah dari industri pengolahan justru lebih banyak dinikmati oleh daerah lain. Dengan kata lain, NTB masih sangat kuat di sektor hulu, tapi belum sepenuhnya optimal dalam memanfaatkan potensi ekonomi dari sektor hilir.

Tata kelola yang masih perlu dibenahi

Sektor budi daya udang di NTB masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama dalam hal tata kelola. Temuan dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menunjukkan hanya 10% tambak yang telah memiliki izin lingkungan lengkap. Selain itu masih terdapat ketidaksinkronan data antar instansi terkait pengelolaan tambak.

Kondisi ini berpotensi menimbulkan berbagai risiko, mulai dari dampak lingkungan hingga potensi kehilangan pendapatan daerah. Sehingga perbaikan sistem perizinan, pendataan, dan pengawasan menjadi langkah penting untuk memastikan industri udang dapat tumbuh secara berkelanjutan.

Tekanan penyakit juga datang dari sisi budi daya, pada Laporan Shrimp Outlook 2026 di Nusa Tenggara mencatat positivity rate IMNV 12,53%, EHP 7,91%, AHPND 5,72, dan kemunculan WMS yang turut memengaruhi penurunan ADG. Baca selengkapnya di sini!

Banner SO26 Report_Web App 1250x672_Variasi 2_ID.png

Peluang NTB Sebagai Pusat Industri Udang

Hilirisasi jadi arah pengembangan industri

Menyadari tantangan tersebut, pemerintah daerah mulai mendorong transformasi industri melalui pengembangan sektor hilir. Fokus ini menjadi langkah strategis untuk meningkatkan nilai tambah dari komoditas udang yang selama ini lebih banyak dijual dalam bentuk mentah.

Pemerintah Provinsi NTB tengah menyiapkan kawasan industri pengolahan udang di beberapa wilayah potensial. Diharapkan dapat menarik investor sekaligus menciptakan ekosistem industri yang lebih terintegrasi. Menurut H. Muslim, ke depan udang dari NTB ditargetkan tidak lagi keluar dalam bentuk mentah, melainkan sudah melalui proses pengolahan di dalam daerah. Upaya ini diharapkan dapat meningkatkan nilai ekonomi sekaligus membuka lebih banyak peluang kerja bagi masyarakat setempat.

Kontribusi terhadap ekspor semakin besar

Peran udang dalam perekonomian NTB juga terlihat dari kinerja ekspor yang masih tinggi. Berdasarkan rilis resmi pemerintah provinsi melalui Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor NTB pada Februari 2025 mencapai US$ 7,28 juta, naik sebesar 87,17% dibandingkan bulan sebelumnya. Peningkatan ini didorong oleh sektor perikanan, khususnya komoditas ikan dan udang.

Komoditas ikan dan udang tercatat menjadi penyumbang terbesar ekspor NTB dengan nilai sekitar US$ 2,8 juta atau setara 38,59% dari total ekspor. Kepala BPS NTB, juga menegaskan kenaikan ekspor ini menunjukkan peran penting sektor perikanan dalam menopang ekspor daerah, terutama saat komoditas tambang tidak mendominasi.

Kesimpulan

NTB masih menjadi pilar utama produksi udang nasional dengan kontribusi besar terhadap ekspor, tapi kekuatan di sektor hulu ini belum sepenuhnya diikuti oleh optimalisasi nilai tambah di dalam daerah. Tantangan seperti tata kelola tambak yang belum optimal menunjukkan bahwa peningkatan produksi saja tidak cukup untuk menjamin keberlanjutan industri. Dengan dorongan hilirisasi dan perbaikan sistem pengelolaan, NTB memiliki peluang untuk bertransformasi dari sekadar produsen menjadi pusat industri udang yang lebih terintegrasi dan berdaya saing tinggi.

Referensi

Ikuti Berita Terbaru JALA

Dapatkan pemberitahuan tips budidaya, update fitur dan layanan, serta aktivitas terkini JALA.