
Panen merupakan tahap akhir yang menentukan hasil dari seluruh proses budi daya udang. Maka dari itu, setiap proses panen perlu dilakukan dengan persiapan yang tepat, termasuk dalam pemilihan alat panen yang digunakan. Salah satu alat yang paling umum dipakai saat panen adalah jaring atau jala. Penggunaan jaring yang tepat penting untuk menjaga kondisi udang saat panen agar tidak mudah terluka, stres, maupun mengalami kematian.
Secara umum terdapat beberapa jenis jaring yang digunakan di tambak udang. Masing-masing jenisnya memiliki fungsi dan cara penggunaan yang berbeda tergantung kebutuhan panen.
Jenis-Jenis Jaring untuk Panen Udang
1. Jaring lempar
Jaring lempar merupakan jenis jaring yang paling sering digunakan di tambak udang, terutama untuk kegiatan sampling dan panen parsial. Jaring ini terbuat dari anyaman benang nilon dengan pemberat di bagian tepi agar dapat terbuka sempurna saat dilempar. Jaring lempar biasanya digunakan ketika udang mencapai ukuran 10-13 gr/ekor. Ukuran mata jaring berkisar antara 0,5-1 inci dan dapat disesuaikan dengan ukuran udang yang akan ditangkap.
Panjang jaring lempar umumnya 4,5 meter. Untuk mengurangi risiko udang lolos, petambak dapat menggunakan ukuran mata jaring yang lebih kecil sesuai kebutuhan. Bagian ujung jaring juga dilengkapi tali kerut dan pemberat agar udang tetap terperangkap saat jaring diangkat.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan saat menggunakan jaring lempar, antara lain:
- Lipat jaring dari bagian atas hingga tersisa sekitar 1,25 meter sebelum dilempar.
- Posisikan pemberat di belakang siku tangan agar jaring dapat terbuka sempurna saat ditebar.
- Pastikan jaring tersusun rapi dan tidak terbelit sebelum digunakan.





