Belum punya pengalaman berbudidaya udang bukan suatu penghalang bagi Mas Irfanto untuk memulai. Hampir 2 tahun pertama sering gagal panen, hingga serangan penyakit udang yang terus berdatangan, justru semakin meningkatkan semangat Mas Irfanto untuk terus belajar di industri udang. Simak perjuangan budi daya Mas Irfanto di Indramayu, Jawa Barat.
Berawal dari Keinginan Bekerja Dekat Rumah
Sebelum mengelola tambak, Mas Irfanto sempat bekerja sebagai konsultan lingkungan selama 2-3 tahun. Kesempatan untuk terjun ke dunia budi daya udang datang ketika keluarganya meminta untuk mengelola tambak yang sudah dimiliki sebelumnya. Setelah lulus sebagai sarjana Perikanan, kesempatan tersebut kemudian diberikan kepada Mas Irfanto.
Masalahnya Mas Irfanto tidak memiliki pengalaman mengelola tambak sama sekali, bahkan belum pernah melihat kincir sebelumnya. Alih-alih mundur, Mas Irfanto memanfaatkan relasi yang sudah dimilikinya, yaitu teman yang bekerja sebagai sales pakan. Beliau kemudian ikut berkeliling mengunjungi tambak bersama temannya.
Bukan sekadar ikut jalan-jalan, kesempatan itu dimanfaatkan untuk belajar langsung dari kondisi tambak dan bertukar informasi dengan petambak lain. “Kalau sama sales pakan kan sering keliling. Saya ikut saja, sekalian belajar dan lihat bagaimana tambak orang lain”, terang Mas Irfanto. Dari sana, sedikit demi sedikit beliau mulai memahami bagaimana budi daya dijalankan di lapangan. Bahkan ketika akhirnya memutuskan membangun tambak sendiri, dengan bermodalkan hasil belajar dari pengalaman dan diskusi bersama teman-temannya.
Dua Tahun Pertama Belajar dari Kegagalan
Menjadi petambak ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Dua tahun pertama adalah masa yang penuh tantangan bagi Mas Irfanto. Tambaknya berada di wilayah yang tergolong zona merah budi daya, sehingga risiko penyakit udang menjadi tantangan terbesar, seperti rawan terkena WFD, AHPND, hingga EHP.
Kegagalan juga tidak hanya datang dari penyakit. Bentuk kolam kotak yang sebelumnya digunakan ternyata turut menjadi salah satu persoalan. Setelah berkali-kali mengalami kegagalan, Mas Irfanto akhirnya memutuskan untuk mengubah pendekatan.
Beliau memindahkan lokasi dan mengubah desain tambak dari kolam kotak menjadi kolam bundar. Perubahan tersebut memberikan lingkungan budi daya dan sumber air yang dinilai lebih sesuai untuk tambaknya. Dari berbagai kegagalan itu, Mas Irfanto akhirnya menyadari bahwa budi daya bukan hanya soal mengejar hasil produksi setinggi mungkin. Menurutnya, yang terpenting adalah menemukan pola budi daya yang sesuai dengan kondisi tambak.
Tidak Mengejar Size, yang Penting Udang Selamat dan Menguntungkan
Salah satu prinsip yang kini diterapkan Mas Irfanto adalah tidak menetapkan target DoC atau size tertentu sebagai patokan utama panen. “Yang penting udangnya selamat, aman, dan profit”, tambah Mas Irfanto. Oleh karena itu, fokusnya adalah bagaimana mendapatkan keuntungan dengan menekan biaya produksi, salah satunya melalui efisiensi pakan dan FCR.
Strategi yang kini diterapkannya dengan melakukan puasa setelah sampling. Strategi tersebut dilakukan untuk menyesuaikan pemberian pakan dengan kondisi udang, sekaligus menghindari pemberian pakan secara berlebihan. Baginya, budi daya adalah proses mencari pola. Selama tidak ada masalah yang signifikan, beliau cenderung tidak buru-buru mengganti pakan atau benur. Terlalu sering mengubah SOP justru dapat membuat proses budi daya semakin sulit dikendalikan.
Memanfaatkan Teknologi untuk Mencatat Data yang Sering Terlewat
Selain menghadapi tantangan teknis, Mas Irfanto juga sempat menghadapi persoalan administrasi yang tidak kalah melelahkan yang dikerjakan sendiri secara manual. Mulai dari mencatat data, menghitung kebutuhan pakan, mengurus gaji karyawan, hingga melakukan purchasing.
Kondisi tersebut akhirnya membuat Mas Irfanto mencoba Baruni. Dengan Baruni, hasil pengukuran kualitas air dapat otomatis terhubung ke JALA App. Jadi setelah melakukan pengukuran, data dapat langsung tercatat tanpa harus memasukkannya satu per satu secara manual. Hal tersebut tidak hanya menghemat waktu, tetapi juga membuat data yang terkumpul mudah digunakan untuk analisis.
Selain Baruni, Mas Irfanto juga memanfaatkan fitur Harga Udang di JALA App. Informasi di fitur tersebut dapat menjadi salah satu pertimbangan ketika menentukan strategi panen dan melihat potensi keuntungan dari siklus yang sedang berjalan.
Seperti Mas Irfanto, Anda juga bisa membuat budi daya lebih efisien dengan Baruni dan JALA App. Pantau kualitas air secara otomatis (DO, suhu, pH, salinitas, dan ORP), catat data budi daya tanpa ribet, hingga akses informasi harga udang untuk mengambil keputusan dengan lebih tepat.






