Industri Udang

Sorot Performa Budidaya Udang Indonesia di Tahun 2022

Kalyca Krisandini
Kalyca Krisandini
26 Oktober 2023
Bagikan artikel
performance-highlight-of-shrimp-farming-in-indonesia-throughout-2022.jpg

Didukung oleh faktor geografis dan iklim, budidaya udang di Indonesia memiliki potensi untuk berkembang dengan baik. Kondisi geografis Indonesia yang didominasi oleh perairan membuatnya menjadi negara dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia. Iklim Indonesia sebagai negara tropis juga menjadi faktor penting dalam berbudidaya. Dua komponen utamanya, yaitu suhu udara dan curah hujan, mempengaruhi produktivitas budidaya udang.

Produktivitas budidaya udang di tahun 2022

Produktivitas budidaya udang pada tahun 2022 cenderung mengalami penurunan dari tahun sebelumnya. Nilainya hanya menyentuh angka 10,68 ton/ha, menurun dari tahun 2021 yang berada pada angka 11,7 ton/ha. Jika dilihat dari bulan ke bulan, penurunan produktivitas terjadi sejak bulan Februari 2022. Tren ini terjadi pada sistem budidaya dengan padat tebar 80-300 ind/m2 dan >300 ind/m2.

Produktivitas budidaya udang di Pulau Jawa pada tahun 2022 relatif lebih rendah dibandingkan dengan daerah lainnya di Indonesia. Angka produktivitas di Pulau Jawa sebesar 9,42 ton/ha, sedangkan di luar Jawa secara kumulatif sebesar 12,22 ton/ha.

Produktivitas pada padat tebar >300 ind/m2 masih menjadi yang terbaik, yaitu mencapai 30,18 ton/ha. Nilai tersebut mendongkrak rerata keseluruhan produktivitas menjadi 11,78 ton/ha. Tanpa budidaya super intensif, rerata produktivitas hanya mencapai 10,19 ton/ha. Dengan jumlah yang hanya mencakup 6% dari budidaya keseluruhan, budidaya dengan sistem super intensif dapat menaikkan rerata produktivitas budidaya udang nasional. Selain itu, secara umum, produktivitas tambak udang Indonesia dapat dideteksi dari turunnya Survival Rate (SR) dan size udang saat panen.

Performa Survival Rate (SR) di Tahun 2022

Penurunan produktivitas salah satunya disebabkan performa SR yang juga mengalami penurunan. Pada 2021, nilai rata-rata SR sebesar 68,64%, sedangkan pada tahun 2022 turun menjadi 55,83%. Penurunan terjadi lebih cepat pada sistem budidaya dengan padat tebar >300 ind/m2 dan lebih lambat pada sistem intensif. Hal ini mengindikasikan bahwa tebaran sedang memiliki risiko yang lebih kecil. Jika melihat waktu, SR terus menurun saat memasuki bulan September. Fenomena ini berkaitan dengan peralihan dari musim kemarau ke musim hujan.

Feed Conversion Ratio (FCR) di tahun 2022

Sementara itu, Feed Conversion Ratio (FCR) di sistem budidaya dengan padat tebar ≤80 ind/m2 dan >300 ind/m2 mengalami kenaikan. Pada tahun 2021, nilai FCR berada pada angka 1,68, sedangkan di tahun 2022 mencapai 1,84. Rerata FCR secara umum pada padat tebar >300 ind/m2 berada di angka 1,78. Nilai tengah dari FCR masih berada pada kisaran FCR yang kurang ideal (1,6-1,8). 

Durasi budidaya yang memendek dan FCR yang tinggi membuat budidaya tidak cukup efisien. Perlu adanya evaluasi perhitungan pakan berdasarkan kondisi budidaya. Rendahnya efisiensi pakan merupakan salah satu indikator kegagalan budidaya.

Baca artikel terkait: Otak-Atik Program Pakan

Dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, nilai FCR cenderung meningkat. Hal tersebut mengindikasikan efisiensi pemberian pakan yang menurun. Kenaikan nilai FCR terjadi pada padat tebar 80-300 ind/m2 dan padat tebar >300 ind/m2. Efisiensi pakan terbaik diperoleh pada budidaya dengan padat tebar >300 ind/m2.

Size udang di tahun 2022

Dari segi size, size udang yang dipanen di tahun 2022 relatif lebih besar 2,31% dibandingkan tahun sebelumnya. Di tahun 2022, budidaya dengan padat tebar 80-300 ind/m2 menghasilkan udang yang lebih besar. Pertumbuhan udang diindikasikan terjadi lebih cepat karena rerata size udang naik dan durasi budidaya lebih pendek. Ini terjadi pada bulan Januari dan Februari 2022 saja karena rata-rata size udang kemudian mengecil di bulan-bulan selanjutnya. 

Hal ini bisa jadi merupakan dampak dari durasi budidaya yang relatif lebih cepat. Ditambah lagi, nilai SR juga menurun. Hal ini akan berdampak pada produktivitas yang juga menurun.

Performa budidaya udang sepanjang tahun

Secara keseluruhan, performa budidaya udang di tahun 2022 cenderung mengalami penurunan. Data produktivitas dan SR menunjukkan adanya penurunan, sementara FCR mengalami kenaikan. Meski demikian, size udang saat panen semakin besar pada budidaya padat tebar 80-300 ind/m2

Untuk menghadapi tahun 2023, berbagai langkah diperlukan sebagai solusi agar performa budidaya membaik, antara lain:

  • Menghentikan penggunaan desinfeksi kimia karena perairan telah mengalami overdosis bahan kimia yang menyebabkan bakteri menjadi resisten
  • Menggunakan genetik udang yang resisten penyakit (benur SPF/SPR)
  • Memahami masa sulit dan mudah dalam menjalankan budidaya

Selain itu, Anda dapat menyimak ulasan lengkap tentang industri udang 2022 dan strategi menghadapi 2023 dengan menyimak live streaming siaran ulang Shrimp Outlook 2023 di kanal YouTube JALA.

—

Data dihimpun dari Aplikasi JALA tahun 2021 dan 2022.

Artikel Terkait
Semua artikel
Minimalisir Dampak Budidaya dengan Inovasi Teknologi dan Pengelolaan Lingkungan
Minimalisir Dampak Budidaya dengan Inovasi Teknologi dan Pengelolaan Lingkungan
15 Mei 2024 2 menit baca
Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang Laut dalam Perizinan Tambak Udang
Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang Laut dalam Perizinan Tambak Udang
14 Mei 2024 3 menit baca
JALA (PT JALA Akuakultur Lestari Alamku) Mengklarifikasi Tidak Terlibat dengan HS (Harapan Sejahtera) Group
JALA (PT JALA Akuakultur Lestari Alamku) Mengklarifikasi Tidak Terlibat dengan HS (Harapan Sejahtera) Group
2 Mei 2024 1 menit baca
Potensi Pasar Udang Vaname di Indonesia [2024]
Potensi Pasar Udang Vaname di Indonesia [2024]
4 April 2024 4 menit baca
Ikuti Berita Terbaru JALA

Dapatkan pemberitahuan tips budidaya, update fitur dan layanan, serta aktivitas terkini JALA.