Budidaya Udang di Dipasena, Lampung Bersama Program Tambak Pintar Jala

Tambak Pintar adalah program intensif selama 3 bulan yang diinisiasi oleh Jala Tech untuk mendampingi dan membantu petambak di Indonesia dalam mengadopsi teknologi bagi budidaya mereka. Program ini ditujukan kepada para petambak individu kecil hingga menengah dengan tujuan menimbulkan dan meningkatan kepedulian terhadap pemantauan kondisi kualitas air, pencatatan data budidaya, serta biosecurity agar mendapatkan hasil yang maksimal serta menciptakan lingkungan budidaya yang berkelanjutan.

Tonton video di bawah ini untuk mengetahui lebih lanjut terkait program Tambak Pintar,

Tambak Pintar telah diinisasi dan berjalan di beberapa lokasi yang tersebar di Pulau Jawa dan Provinsi Lampung. Salah satunya adalah di Dipasena, Kabupaten Tulang Bawang, Lampung yang dimulai sejak akhir 2019 lalu. Nama Dipasena tidaklah asing karena perannya sebagai sentra produksi udang di Indonesia dulu. Namun memasuki tahun 2000an perlahan lahan mulai redup dari panggung budidaya. Bertahan dalam situasi tanpa sarana yang memadai untuk budidaya sejak 2011 lalu, mayoritas petambak tetap mengelola tambak yang sudah diperjuangkan hak kepemilikannya tersebut.

16 Desember 2019 hingga 20 Agustus 2020, Tambak Pintar JALA terlibat aktif dalam mendampingi dan menemani petambak Dipasena Jaya, Blok 7 Delta dalam aktivitas budidaya udang. Difasilitasi dengan asisten lapangan yang dilengkapi dengan alat kualitas air tambak udang Baruno dan aplikasi manajemen budidaya udang Jala , petambak Dipasena Jaya diajak kembali bersemangat dan peduli terhadap hal-hal dasar dalam budidaya udang.

Terhambat di siklus pertama (Desember 2019-Februari 2020) dengan gagal panen yang disebabkan oleh karena merebaknya penyakit White Spot Syndrome Virus (WSSV) sempat menyebabkan pesimistis dari pihak petambak dan Tambak Pintar.

Namun, tidak berlarut-larut dalam situasi tersebut, pada akhir Mei 2020 sejalan dengan program jumlah tebar tinggi di empat kolam oleh Matahari Sakti, Tambak Pintar JALA kembali membersamai petambak Delta dalam kegiatan budidayanya. Mendampingi sekitar 15 kolam budidaya dalam pengukuran air dan pencatatan budidaya, pada siklus kedua tersebut hingga Agustus lalu terlihat perubahan dalam diri petambak Delta yang mulai peduli terhadap kualitas air kolam budidaya. Petambak yang awalnya tidak mencatatkan hasil pengukuran dari parameter-parameter kualitas air mulai memandang pentingnya hal tersebut dan membuat catatan sendiri selain juga dibantu untuk mencatatkan di aplikasi JALA. Petambak juga mulai memahami pengaruh perubahan parameter seperti temperatur, salinitas, pH dan oksigen terlarut (DO) terhadap udang dengan berdiskusi bersama petambak lain dalam kelompok dan asisten lapangan Tambak Pintar.

Hasil dari program ini menunjukkan bahwa adanya kenaikan pada ADG (average daily growth) pada setiap kolam dibandingkan dengan siklus - siklus sebelumnya. Kegiatan budidaya pun lebih diperhatikan dilihat dari tidak adanya kolam yang gagal panen walaupun sempat terdeteksi infeksi WSSV. Tambak Pintar JALA berharap dengan ini petambak dan generasi selanjutnya dari Dipasena tidak hilang harapan untuk menjadikan Dipasena menjadi sentra udang yang besar di Indonesia.

Cerita Lainnya

Mulai budidaya udang yang lebih baik

Tertarik Baruno?

Tertarik Jala Apps?

Mulai budidaya udang yang lebih baik

Tertarik Baruno?

Tertarik Jala Apps?